‼️Baca keseluruhan caption dan dokumentasi dengan teliti ‼️
Pada tanggal 22 Maret lalu, salah satu akun X (Twitter) bernama @/Kanok2401 membagikan pengalaman tidak menyenangkan yang harus ia alami, saat menghadiri acara ‘WilliamEst Lovestruck 1st Fanmeeting in Manila’, di Filipina, yang dipromotori oleh CDM Entertainment.

Pasalnya akun tersebut mengaku, bahwa ponselnya telah dicuri. Ia mengunggah foto 4 orang yang telah disamarkan wajahnya dan menyatakan, bahwa ponselnya ia kalungkan di pergelangan tangan dan pelaku berhasil mengambilnya serta mengopernya dengan cepat. Akun tersebut juga menuliskan, bahwa salah satu komplotan pencuri adalah staf dari acara tersebut. Sebagai bentuk kepedulian, Est sempat merespon cuitan tersebut dengan emoji, “🤯🤬👎🏻🫥.”

Pada Selasa (24/03), akun @/Kanok2401 kembali menuliskan kronologinya. Ia sempat meminta bantuan petugas keamanan untuk menahan pelaku (baju coklat) namun terduga pelaku tidak mengakui dan memojokkan korban agar menunjukkan bukti. Akhirnya terduga pelaku menunjuk saku staf lain (baju hijau) yang diduga mengantongi ponsel korban. Petugas juga dinilai tidak kooperatif karena tidak mengizinkan korban mengecek kamera CCTV. Korban merasa tidak terima karena dituduh memfitnah, karena dia sangat mengetahui siapa pelakunya sejak awal.

Akhirnya di hari yang sama, pihak CDM Entertainment memberikan klarifikasi resmi berikut dengan sebuah potongan rekaman video CCTV. Pihaknya menyatakan, bahwa staf telah menawarkan bantuan untuk melapor ke polisi, namun korban menolak. Setelah mengecek hasil CCTV terlihat, bahwa seseorang menunjuk sebuah ponsel yang tergeletak di lantai dan memberitahu terduga pelaku (baju hijau), yang akhirnya mengambil ponsel tersebut dan diletakkan di atas meja. Menurut pihak promotor, tidak ada pencurian yang terjadi dan staf tersebut bermaksud untuk menyerahkan ponsel kepada petugas keamanan. Pihaknya menyayangkan adanya salah identifikasi dan penyebaran informasi palsu secara online, yang merugikan reputasi individu tertentu serta organisasi milik mereka, sehingga masalah ini ditinjau oleh tim hukum atas kemungkinan adanya fitnah.

Sampai artikel ini diturunkan, masih terjadi perdebatan di media sosial terkait transparansi dari promotor dan dugaan ‘doxing’ oleh korban. Beberapa di antaranya menyetujui, bahwa ini hanya salah paham. Namun pihak lain masih terus menduga adanya kerjasama pelaku dengan tim promotor karena beberapa kejanggalan yang terjadi, seperti ponsel yang mati setelah hilang dan penemuan ponsel jatuh yang terlalu jauh dari posisi korban.
